In The Batavia Series we will use historical maps to explore the spatial developments of Indonesian capital, Jakarta, from its founding as Batavia by VOC, its spreading, the fall of VOC and the reign of Dutch East Indies Colony, until its transfer to the Indonesian Republic. The series will be consisted of several parts based on the development phases of the city.
Note: The historical maps are superimposed to the contextual map of 2017, while larger view of the superimposed maps can be seen at the end of each of the series. For the early series (year 1600s and early 1700s), we will use only the northern part of Jakarta as the contextual map.
Batavia was not erected on an empty ground. In the 4th century, the site was part of Tarumanagara Kingdom, and from 7th to 13th century it was part of Sunda Kingdom, with its Sunda Kelapa port, which was part of the Srivijaya Empire. In 1513 the first contact with the Europeans was made between Sunda Kingdom and the Portuguese merchants, which then built their own port in 1522. In 1527 Fatahillah, a general from Demak Kingdom, conquered the city, put it under Banten Sultanate control, and renamed it Jayakarta. In 1596 merchants from the Netherlands led by Cornelis de Houtman reached Jayakarta for trade and in 1610 they were granted permission to build a trading outpost on the east bank of Ciliwung river, which then finished on 1611. By that time, the British were also had arrived at Jayakarta in 1602.
In other part of the world, the Dutch Government granted VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie, United East Indies Company) monopoly right for Asian trade in 1602, thus from that point until its liquidation in 1799, the main role of the history of Batavia was the VOC, a corporation, instead of the Dutch Government directly.
Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts
26 March 2017
28 October 2016
Riwayat Ruang
Makna ruang selalu berubah-ubah di sepanjang sejarah manusia, mengikuti struktur politik, relasi ekonomi, dan cara berproduksi yang dihidupinya. Tulisan ini adalah sebuah gambaran kasar, sangat kasar, tentang proses pergerakan sejarah tersebut dan keterkaitannya dengan ruang kehidupan manusia.
***



Ketika jumlah spesies manusia masih sedemikian sedikitnya di muka bumi, tersedia ruang kehidupan yang sangat berlimpah ruah. Tetapi di awal peradabannya manusia memiliki kemampuan yang minim dibandingkan dengan alam di sekitarnya; kemampuan mengatasi, memanipulasi, dan memanfaatkan alam sekaligus bertahan dari serangan-serangannya. Ada bahaya yang mengancam di luar sana, ada lingkungan yang tidak dapat menunjang kehidupan, ada ruang kehidupan yang dikuasai oleh predator, bahkan ada ruang yang tidak dapat dimasuki sama sekali. Secara subjektif alam menjadi sangat terbatas, sangat sempit bagi mereka.
Lalu, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup bagi manusia-manusia primitif adalah dengan bekerjasama. Akibat volume otak yang lebih besar, selain menggunakan alat dan mengembangkan bahasa, kemampuannya untuk bekerjasama adalah hal utama yang menunjang kelestarian spesies manusia di awal kehidupannya. Mereka bekerjasama dalam mengkoordinasi aksi dan aktivitas, mereka bekerjasama untuk mendapatkan makanan dan mempertahankan ruang kehidupan mereka.
Pada masa primitif itu, teknologi yang dikuasai manusia hanyalah sebatas untuk menciptakan alat-alat genggam sederhana yang sangat mudah untuk diduplikasi, sangat mudah untuk didapatkan dan dibuat. Mereka juga hanya dapat memanfaatkan tempat-tempat yang telah disediakan oleh alam untuk tempat hidupnya dan mereka belum lagi menguasai kemampuan bercocok-tanam. Semua anggota masyarakat dapat memiliki alat yang relatif sama dan hidup di tempat yang sama tanpa mampu menghasilkan surplus yang dapat disimpan untuk waktu yang lama, sehingga tidak memungkinkan terjadinya dominasi individual terhadap kelompoknya atas dasar kepemilikan atas alat maupun cadangan pangan, sementara keunggulan individual pun sangat terbatasi oleh ketergantungan sang individu untuk bekerjasama dengan kelompoknya.
Cara leluhur kita berproduksi, sistem kepemilikan mereka atas alat produksi, menentukan bentuk sistem ekonomi Komunalisme Primitif yang mereka hidupi. Dan bentuk sistem ekonomi tersebut pada gilirannya akan tercermin pada cara mereka menempatkan diri di dalam ruang kehidupannya. Adalah tidak masuk akal, tidak menunjang survivability, tidak menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, dan pada dasarnya tidak dapat mereka lakukan; untuk memecah dan membagi-bagi ruang kehidupan menjadi kepemilikan privat. Mereka memiliki, mengelola, dan mengamankan ruang kehidupannya bersama-sama.
***



Ketika jumlah spesies manusia masih sedemikian sedikitnya di muka bumi, tersedia ruang kehidupan yang sangat berlimpah ruah. Tetapi di awal peradabannya manusia memiliki kemampuan yang minim dibandingkan dengan alam di sekitarnya; kemampuan mengatasi, memanipulasi, dan memanfaatkan alam sekaligus bertahan dari serangan-serangannya. Ada bahaya yang mengancam di luar sana, ada lingkungan yang tidak dapat menunjang kehidupan, ada ruang kehidupan yang dikuasai oleh predator, bahkan ada ruang yang tidak dapat dimasuki sama sekali. Secara subjektif alam menjadi sangat terbatas, sangat sempit bagi mereka.Lalu, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup bagi manusia-manusia primitif adalah dengan bekerjasama. Akibat volume otak yang lebih besar, selain menggunakan alat dan mengembangkan bahasa, kemampuannya untuk bekerjasama adalah hal utama yang menunjang kelestarian spesies manusia di awal kehidupannya. Mereka bekerjasama dalam mengkoordinasi aksi dan aktivitas, mereka bekerjasama untuk mendapatkan makanan dan mempertahankan ruang kehidupan mereka.
Pada masa primitif itu, teknologi yang dikuasai manusia hanyalah sebatas untuk menciptakan alat-alat genggam sederhana yang sangat mudah untuk diduplikasi, sangat mudah untuk didapatkan dan dibuat. Mereka juga hanya dapat memanfaatkan tempat-tempat yang telah disediakan oleh alam untuk tempat hidupnya dan mereka belum lagi menguasai kemampuan bercocok-tanam. Semua anggota masyarakat dapat memiliki alat yang relatif sama dan hidup di tempat yang sama tanpa mampu menghasilkan surplus yang dapat disimpan untuk waktu yang lama, sehingga tidak memungkinkan terjadinya dominasi individual terhadap kelompoknya atas dasar kepemilikan atas alat maupun cadangan pangan, sementara keunggulan individual pun sangat terbatasi oleh ketergantungan sang individu untuk bekerjasama dengan kelompoknya.
Cara leluhur kita berproduksi, sistem kepemilikan mereka atas alat produksi, menentukan bentuk sistem ekonomi Komunalisme Primitif yang mereka hidupi. Dan bentuk sistem ekonomi tersebut pada gilirannya akan tercermin pada cara mereka menempatkan diri di dalam ruang kehidupannya. Adalah tidak masuk akal, tidak menunjang survivability, tidak menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, dan pada dasarnya tidak dapat mereka lakukan; untuk memecah dan membagi-bagi ruang kehidupan menjadi kepemilikan privat. Mereka memiliki, mengelola, dan mengamankan ruang kehidupannya bersama-sama.
12 July 2016
Musical Post: The Fields Of Athenry
Between 1845 and 1852, there were mass starvation and disease in Ireland, The Great Hunger, which killed about a million people, while a million other emigrated out of the island. So great was the effect of the event, it changed political landscape of the time and considered as one of the background factor for the independence of the Republic of Ireland about half a century later.
The cause of the famine can be traced to years back, it was revolving around agriculture and land problems in Ireland as part of United Kingdom's territory.
The cause of the famine can be traced to years back, it was revolving around agriculture and land problems in Ireland as part of United Kingdom's territory.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Popular Nonsensical Matters
-
This article will be a simple causality exploration of why (some) public spaces in Jakarta are (still) ugly, in this case the river. Common ...
-
In The Batavia Series we will use historical maps to explore the spatial developments of Indonesian capital, Jakarta, from its founding ...
-
Coba lihat gambar ini. Ini adalah sebuah gambar yang sangat layak untuk dihiasi dengan komentar berbunga. Bunga-bunga yang indah, yang se...
-
Abundance Without Equity We live in an age of unprecedented abundance. Never in human history have so many people had access to so much food...
-
I've many times visited Borobudur Temple but not Prambanan Temple, though they are both located at Jogjakarta area. It might be because...
-
7 Agustus 2006 Sebenarnya aku lebih suka bicara langsung denganmu, muka berhadapan dengan muka, supaya kau dengar apa yang kukatakan l...
-
We can't expect high density development in our suburbs because sprawling is an inherent trait of Indonesian new town development. Indon...
-
Sudah jamak diketahui bahwa lingkungan terbangun dan infrastruktur adalah salah satu sarana untuk melakukan eksploitasi dan ekstraksi Sumber...
-
BACKGROUND Java is the most populated island on earth. With land area around 139,000 square kilometer, Java island is house for more than 15...
-
Seorang penari balet yang handal, pembalap ulung, pemain sepak bola yang lihai, atau atlet bela diri yang sangat tangkas memiliki kecerdas...


