Tulisan ini adalah tambahan eksplorasi untuk tulisan Ruang Sebagai Perbedaan Kerapatan di tanggal 7 Desember 2012.
Konsep ruang sebagai akibat dari perbedaan kerapatan bisa jadi agak sulit untuk teramati jika kita berada di lingkungan yang telah terbangun, seperti di tengah kota, misalnya. Walaupun bukan berarti sama sekali tidak relevan, tetapi ruang di kota telah ditegaskan secara sedemikian rupa sehingga seringkali sudah hampir tidak ada lagi wilayah abu-abu di antara kondisi "rapat" - sebagai yang memberi batas - dan "tidak rapat" - sebagai ruang yang terwujud dari batasan-batasan tersebut.
Hal-hal yang memberi batasan untuk terwujudnya ruang, di tengah kota, telah ditegaskan ke dalam bentuk-bentuk seperti dinding, trotoar, pagar, railing, lantai, kaca, dan sebagainya. Batasan antara ruang dan bukan ruang menjadi sangat-sangat tajam dan tegas, karena memang keteraturan dan kejelasan tersebut adalah perwujudan material dari norma, peraturan, kesepakatan bersama, hukum, dan undang-undang, yang dibutuhkan demi efisiensi dan kesejahteraan lahir dan batin manusia-manusia penghuninya.
Semakin banyak aktivitas manusia terjadi di suatu lingkungan, semakin lingkungan tersebut menjadi terbangun, maka akan semakin tegas pula batasan ruangnya. Daerah pedesaan memiliki batasan-batasan yang masih jauh lebih lembut, di sana masih cukup banyak tersisa wilayah abu-abu antara "ruang" dan "bukan ruang". Seperti sepotong jalan di tengah desa, misalnya, meskipun jalan tersebut banyak dilalui oleh pejalan kaki, gerobak, kerbau, sepeda, maupun motor, tetapi terkadang tidak tampak batasan yang jelas antara di mana siapa harus berlalu, dan kalau dilihat lebih jauh pun terkadang hampir tidak ada batasan yang tegas antara jalanan dan bukan jalanan. Demikian juga dengan batasan-batasan antara ruang privat dan publik, wilayah kepemilikan yang satu dengan yang lain, luar dan dalam, jenis-jenis lahan, dan lain-lainnya.
Oleh karena itu tempat terbaik untuk menghayati ruang sebagai perbedaan kerapatan adalah di suatu tempat di mana terdapat sesedikit mungkin jejak aktivitas manusia, tempat yang sama sekali bukan merupakan lingkungan terbangun, di mana - berkebalikan dengan kondisi lingkungan perkotaan - hampir sepenuhnya berada di wilayah abu-abu dan hampir tanpa ketegasan sama sekali: Di tengah hutan belantara pegunungan.
Jika kita pergi naik gunung, seperti - yang terdekat dari Jakarta - gunung Salak misalnya, ketika sudah mulai masuk dan berada di tengah hutan belantara, kita akan dapat melihat bahwa terkadang tidak ada batasan yang benar-benar tegas antara ruang dan bukan ruang. Terkadang satu-satunya yang memiliki batasan yang masih cukup terasa adalah jalan setapak tempat orang biasa (dan seharusnya) berlalu. Selain dari itu semuanya adalah "ruang" sekaligus "bukan ruang".
Tanpa dinding, trotoar, pagar, dan pembatas tegas yang lainnya, "bukan ruang" hanyalah berarti tidak cukup memungkinkan untuk dilalui, dimasukki, atau ditempati; selain karena pohon, tebing, dan jurang, adalah hanya karena kerapatan semak-semaknya. Dan di belantara pegunungan, perbedaan kerapatan semak-semak itulah yang kemudian - dalam batas yang selalu berada di wilayah abu-abu - membentuk "ruang".
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Popular Nonsensical Matters
-
In The Batavia Series we will use historical maps to explore the spatial developments of Indonesian capital, Jakarta, from its founding ...
-
We can't expect high density development in our suburbs because sprawling is an inherent trait of Indonesian new town development. Indon...
-
Written with the assistance of an AI Artificial intelligence is often presented as a neutral engine of progress. Faster processes. Better d...
-
One cannot be considered has truly experienced Jakarta if he or she has not tried to drive a car there, on its highways, in its traffic, i...
-
Written with the assistance of an AI A INTRODUCTION Colonialism happened in America, Africa, and Asia but they did not take a single uniform...
-
Tanggal 25 Juni sampai 7 Juli 2013 saya mengikuti Jakarta Vertical Kampung di Erasmus Huis. Diinisiasi oleh SHAU dan didukung oleh Vidour s...
-
Bagian Satu Segalanya mengada dan terjadi di dalam ruang. Segala yang mengada dan terjadi mendefinisikan ruang. Ruang adalah konstruks...
-
In Jakarta, car drivers love to change lanes incessantly and tries to overtake other vehicles on the road. They do it to the point of brea...
-
I've many times visited Borobudur Temple but not Prambanan Temple, though they are both located at Jogjakarta area. It might be because...
-
7 Agustus 2006 Sebenarnya aku lebih suka bicara langsung denganmu, muka berhadapan dengan muka, supaya kau dengar apa yang kukatakan l...

No comments:
Post a Comment