Showing posts with label Indonesian. Show all posts
Showing posts with label Indonesian. Show all posts

14 December 2025

“Bencana Alam” yang Tidak Alamiah

 

Menyebut apa yang terjadi di Sumatera belakangan ini sebagai “bencana alam” adalah kekeliruan - atau setidaknya, penghindaran dari kenyataan yang lebih pahit.

Hujan lebat, banjir, atau tanah longsor yang terjadi di tengah belantara tak berpenghuni tidak akan kita sebut bencana. Itu adalah metabolisme alam, proses normal dari suatu sistem yang hidup dan dinamis.

Sebuah peristiwa baru berubah menjadi bencana ketika manusia terdampak. “Bencana” adalah istilah yang sepenuhnya antroposentris. Hujan adalah peristiwa alami; yang menjadikannya tragedi adalah kerentanan manusia.

31 August 2021

Moratorium New Town di Pulau Jawa - SEKARANG!

Pada bagian sebelumnya (Moratorium New Town di Pulau Jawa) kita telah membahas bahwa pada suatu titik, akan diperlukan Moratorium Pengembangan New Town di pulau Jawa. Di bagian ini kita akan membahas kapan waktu yang tepat. Untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

04 July 2021

Moratorium New Town di Pulau Jawa


Jawa adalah pulau dengan populasi terbanyak di muka bumi. Dengan area sekitar 139 ribu kilometer persegi, pulau Jawa menampung lebih dari 151 juta penduduk, lebih dari setengah populasi Indonesia secara keseluruhan.

06 June 2021

Kota, Ekstraksi, Eksploitasi, dan Komoditas

Sudah jamak diketahui bahwa lingkungan terbangun dan infrastruktur adalah salah satu sarana untuk melakukan eksploitasi dan ekstraksi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia. Tetapi bagaimana dengan Sumber Daya Ruang? Dan bagaimana dengan peran kota dalam kegiatan ekstraksi dan eksploitasi tersebut? Diskusi ini bertujuan untuk mengeksplorasinya secara singkat.


Catatan: Cukup disadari bahwa dalam banyak hal tulisan di ini tidak cukup tajam, tidak cukup dalam, dan di beberapa tempat tidak betul-betul yakin juga dengan apa yang dituliskan. Tetapi sekalipun demikian tetap dituliskan juga, dengan sedikit compang-camping dan menyimpang dari bahasan inti, karena memang ditujukan sebagai suatu studi, suatu pemantik untuk diskusi atau pemikiran lebih jauh lagi.

02 March 2018

Manusia Tiga-per-empat Binatang


Coba lihat gambar ini. Ini adalah sebuah gambar yang sangat layak untuk dihiasi dengan komentar berbunga. Bunga-bunga yang indah, yang segar dan harum. Yang tumbuh di atas seonggok tai maha bau yang masih hangat lagi berlalat.

06 May 2017

Urban, Suburban, dan Rural

Di Indonesia, khususnya di Jakarta dan wilayah sekitarnya, orang tergila-gila pada kepemilikan privat atas ruang, atau properti privat dalam bentuk tanah.

Meskipun secara historis dan geografis sangat berbeda, ketergila-gilaan tersebut mirip dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat. Perbedaannya, di sana hal tersebut memang dengan sengaja diadakan sejak awal kemerdekaannya dari Inggris. Thomas Jefferson membagi tanah di seantero negara tersebut ke dalam grid-grid yang dapat dibeli dan dimiliki oleh pihak privat, dengan argumentasi bahwa kepemilikan akan tanah akan menjamin demokrasi. Tetapi secara politik-ekonomi, menjual kepemilikan privat atas tanah adalah untuk mengisi kas negara, juga untuk menghidupi perekonomian agraris di masa itu, dan sebagai daya tarik utama bagi para imigran dari benua Eropa, sekaligus sebagai akar dari terbitnya patriotisme.

23 January 2017

Riwayat Manusia Pekerja

Di zaman ini, manusia yang bekerja - yang berperikehidupan dengan cara menjual tenaganya - hidup dalam tiga kenyataan sekaligus dalam hubungannya dengan proses produksi yang dilakukannya.

Pertama mereka adalah produsen mulai dari hulu hingga ke hilir. Sejak dari proses mengekstraksi hasil alam, pengolahan dasarnya, mengirimnya ke lokasi yang berbeda-beda, mempertemukannya dengan berbagai material lainnya, pengolahan tahap kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, hingga kemudian membuatnya siap dikonsumsi di hadapan konsumen. Di dunia ini tidak ada nilai yang tercipta selain dari hasil kerja manusia dalam suatu proses produksi, dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit, dari yang terkecil hingga industri raksasa.

21 November 2016

Riwayat Nilai

Alkisah di suatu negeri antah-berantah, emas dalam bentuk murni berserakan berceceran tumpah ruah berlimpah di semua tempat, di setiap pelosok dan pojok muka bumi seperti kerikil, berkilauan tak terbungkus bebatuan dan tidak terpendam jauh di dalam perut bumi.

Di negeri tersebut, niscaya tidak ada orang yang mau membayar untuk mendapatkan emas.

Betapapun bergunanya emas; sekalipun seandainya ia dapat dimakan atau menjadi bahan bakar, selama setiap orang tinggal memungut dari depan mukanya ketika ia butuh seberapa banyak pun, maka tak ada nilai yang bisa dikenakan kepadanya dan tak ada orang yang bisa menjualnya kepada orang lain untuk sesuatu harga.

Tetapi jika ada sedikit saja jarak memisahkan aktivitas konsumsi dari timbunan emas tersebut, artinya dibutuhkan pemindahan dari suatu lokasi ke lokasi lainnya, atau ketika emas dibutuhkan dalam jumlah yang banyak melampaui ketersediaan di depan mata secara langsung, atau ketika dibutuhkan sebentuk pengolahan yang paling sederhana sebelum emas ini siap dipergunakan, dan ketika pemindahan, pengumpulan, serta pengolahan tersebut membutuhkan pengalokasian waktu dan tenaga secara khusus; maka baru saat itulah emas memiliki nilainya.

28 October 2016

Riwayat Ruang

Makna ruang selalu berubah-ubah di sepanjang sejarah manusia, mengikuti struktur politik, relasi ekonomi, dan cara berproduksi yang dihidupinya. Tulisan ini adalah sebuah gambaran kasar, sangat kasar, tentang proses pergerakan sejarah tersebut dan keterkaitannya dengan ruang kehidupan manusia.

***

Ketika jumlah spesies manusia masih sedemikian sedikitnya di muka bumi, tersedia ruang kehidupan yang sangat berlimpah ruah. Tetapi di awal peradabannya manusia memiliki kemampuan yang minim dibandingkan dengan alam di sekitarnya; kemampuan mengatasi, memanipulasi, dan memanfaatkan alam sekaligus bertahan dari serangan-serangannya. Ada bahaya yang mengancam di luar sana, ada lingkungan yang tidak dapat menunjang kehidupan, ada ruang kehidupan yang dikuasai oleh predator, bahkan ada ruang yang tidak dapat dimasuki sama sekali. Secara subjektif alam menjadi sangat terbatas, sangat sempit bagi mereka.

Lalu, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup bagi manusia-manusia primitif adalah dengan bekerjasama. Akibat volume otak yang lebih besar, selain menggunakan alat dan mengembangkan bahasa, kemampuannya untuk bekerjasama adalah hal utama yang menunjang kelestarian spesies manusia di awal kehidupannya. Mereka bekerjasama dalam mengkoordinasi aksi dan aktivitas, mereka bekerjasama untuk mendapatkan makanan dan mempertahankan ruang kehidupan mereka.

Pada masa primitif itu, teknologi yang dikuasai manusia hanyalah sebatas untuk menciptakan alat-alat genggam sederhana yang sangat mudah untuk diduplikasi, sangat mudah untuk didapatkan dan dibuat. Mereka juga hanya dapat memanfaatkan tempat-tempat yang telah disediakan oleh alam untuk tempat hidupnya dan mereka belum lagi menguasai kemampuan bercocok-tanam. Semua anggota masyarakat dapat memiliki alat yang relatif sama dan hidup di tempat yang sama tanpa mampu menghasilkan surplus yang dapat disimpan untuk waktu yang lama, sehingga tidak memungkinkan terjadinya dominasi individual terhadap kelompoknya atas dasar kepemilikan atas alat maupun cadangan pangan, sementara keunggulan individual pun sangat terbatasi oleh ketergantungan sang individu untuk bekerjasama dengan kelompoknya.

Cara leluhur kita berproduksi, sistem kepemilikan mereka atas alat produksi, menentukan bentuk sistem ekonomi Komunalisme Primitif yang mereka hidupi. Dan bentuk sistem ekonomi tersebut pada gilirannya akan tercermin pada cara mereka menempatkan diri di dalam ruang kehidupannya. Adalah tidak masuk akal, tidak menunjang survivability, tidak menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, dan pada dasarnya tidak dapat mereka lakukan; untuk memecah dan membagi-bagi ruang kehidupan menjadi kepemilikan privat. Mereka memiliki, mengelola, dan mengamankan ruang kehidupannya bersama-sama.

10 June 2016

Kapital Hari Esok

Sepanjang sejarahnya, manusia selalu mengejar tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Manusia bekerjasama, mencipta alat, memperalat hewan, memperbudak sesamanya, menciptakan mesin, dan mengeksploitasi tenaga manusia. Setiap tahapan sejarahnya adalah dorongan revolusioner untuk berproduksi lebih banyak, lebih efisien, lebih cepat, dan lebih sempurna. Setiap generasi menjadi saksi untuk percepatan peningkatan kemampuan produksi yang dipacu oleh satu senjata yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lainnya: Teknologi.

Ketika semut dan tawon masih bekerja dengan pola yang sama sejak milenia yang lalu, manusia telah melakukan berbagai lompatan-lompatan menakjubkan, berjuta-juta lompatan mengagumkan, dan mengubah cara berproduksinya dibandingkan abad atau bahkan dekade yang lampau. Menatap ke depan, umat manusia sedang berada di penghujung satu lagi revolusi.

08 June 2016

Kapital Hari Ini

Kapitalisme di abad ke-19 berbeda dengan Kapitalisme hari ini di abad ke-21. Di masa lampau kepemilikan akan kapital, modal dan alat produksi, masih benar-benar terkonsentrasi pada segelintir elit dan lingkaran keluarganya, sehingga masuk akal untuk mempertentangkan secara frontal kedua kelas utama yang hidup di dalam masyarakat; 'Proletar' melawan 'Kapitalis': Orang-orang tanpa kepemilikan atas alat produksi dan hidup dari upah, melawan para pemilik modal dan alat produksi.

Di abad ini, hanya kelas menengah dengan toko-toko dan industri rumahan setengah-besarnya saja yang masih menguasai Kapital sendirian bersama keluarganya.

26 May 2016

Mixed-use Kelas Para Dewa


Di tengah kemacetan dalam perjalanan menuju Jogjakarta, saya melihat hal ini di seberang jalan dan segera mengambil gambarnya.

Entah bagaimana bisa terjadi seperti ini. Suatu konsep mixed-use yang sangat radikal dan ekstrim hingga level para dewa, suatu percampuran fungsi infrastruktur perkotaan dengan komersil privat bahkan mungkin sekaligus dengan residensial.

Kalau sudah begini, apakah fungsi komersial yang strata di atas HGB milik infrastruktur? Atau malah infrastruktur yang - sebuah konsep revolusioner - strata di atas HGB milik komersial? Atau kedua-duanya cuma ngontrak di atas SHM milik residensial?

Wallahu a'lam.

19 May 2016

The World As I See It






Some would be about cities and urban life,
some other capture humanity,
and the rest would merely show my indecent appetite towards
space, pattern, & geometry.






13 May 2016

Keadilan Ruang (Yang Lebih Radikal)

Belakangan ini mulai sering disuarakan konsep tentang Keadilan Ruang. Bahwa di kota seperti Jakarta, semakin kecil pendapatan seseorang, ia akan (terpaksa) tinggal semakin jauh dari pusat kota, semakin ia tinggal jauh dari pelayanan dan prasarana yang memadai, semakin besar pula ongkos yang harus dikeluarkannya untuk mencapai lokasi kerja dan aktivitas serta untuk mendapatkan pelayanan dan prasarana yang memadai.

Konsep Keadilan Ruang yang bersifat normatif dan sosial-etis ini seringkali akan terbentur oleh argumentasi-argumentasi ala liberal; bahwa tidak ada yang patut dikeluhkan dari situasi tersebut, mengingat bahwa entitas-entitas yang menguasai pusat kota pun mendapatkan haknya dengan cara legal, mereka membeli lahan dengan harga yang pantas, mereka membayar pajak, mereka mengolah hak miliknya tersebut agar terus produktif dan menghasilkan.

25 February 2016

Nongkrongophobia & Ruang Privat Rasa Publik

DILARANG: Duduk-duduk / Istirahat Tidur / Makan Minum / Buang Sampah Sembarangan / Meludah


Dilarang buang sampah sembarangan jelas masuk akal. Meludah, selain di kamar mandi, adalah wajar dan masuk akal untuk dilarang di peradaban modern dewasa ini. Demikian juga dengan dilarang tidur, tentu saja sebaiknya orang tidak tertidur di ruang terbuka.

Tetapi ternyata orang juga dilarang untuk duduk-duduk dan makan minum.

07 February 2016

Pengemis Dan Penikmat Patung

18 Agustus 2006

Kau berjalan menghampiri orang itu. Seorang laki-laki yang terlalu tua untuk disebut muda, mungkin umurnya sudah lewat dari lima puluh tahun, bahkan mungkin kau menebaknya enam puluh.

***

Ia sedang berdiri sendirian hampir di tengah lapangan yang kini sedang kau lintasi, membuat potongan berbentuk sedikit diagonal, tepat menuju orang itu. Pandanganmu pun tertuju padanya, walaupun tidak sungguh-sungguh tepat padanya, bukan sebuah pandangan yang tajam. Laki-laki itu mengenakan kemeja batik berlengan panjang dan celana panjang bahan, berdiri tegak sambil berpangku tangan. Badan dan mukanya menghadap ke arah tengah lapangan, di mana berdiri seonggok patung di sana

18 January 2016

Jakarta, Kemacetan, Jalan Tol, & Transportasi Publik Berbasis Rel

Marxistically; di Jakarta, untuk pergi ke tempat penghisapannya saja
buruh harus pikir sendiri transportasinya.




Pada waktu kampanye pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Jokowi dan Ahok menyatakan tidak akan meneruskan proyek pembangunan Enam ruas Tol Dalam Kota.

Tetapi sikap tersebut tiba-tiba berubah pada bulan Agustus-September tahun 2014, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (waktu itu masih Plt. Gubernur) mengatakan akan meneruskan proyek pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota Jakarta. Salah satu tujuannya, sesuai dengan perkataan Ahok, adalah untuk meningkatkan rasio jalan dan mengurangi kemacetan di Jakarta.

16 August 2014

Jalur Besi & Air Laut: Masa Depan Indonesia

150 tahun sejak 1864 ketika jalur Kereta Api pertama di Nusantara mulai dibangun, menghubungkan Kemijen dan Tanggung di Jawa Tengah, pada tahun 2014 ini Indonesia melakukan ground breaking proyek jalur Kereta Api Trans Sulawesi pada tanggal 12 Agustus kemarin. Trase pertama seluruhnya berada di provinsi Sulawesi Selatan, menghubungkan kota Makassar dengan Parepare sepanjang 145 kilometer. Proyek ini direncanakan untuk terus dikembangkan hingga mencapai panjang sekitar 2000 kilometer yang menghubungkan seluruh provinsi dan berbagai kota di pulau Sulawesi.

Dari membaca berbagai berita, kabarnya pemerintah memang berniat untuk membangun, melengkapi, dan memperpanjang jalur-jalur kereta api di berbagai tempat di Indonesia. Mulai dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, bahkan Kalimantan. Dan memang proyek ini harus diteruskan dan ditingkatkan oleh pemerintahan Jokowi, untuk dikawinkan dengan konsep Tol Lautnya.

Cerita di Atas Kursi

05 Januari 2005

Ia, orang tua itu selalu duduk di sana. Di depan pos jaga petugas keamanan, di atas sebuah kursi di samping sebuah pohon yang juga selalu berada di sana. Sejak pagi hingga sore ketika hari mulai gelap ia akan selalu berada di sana, makan dan minum ia lakukan di sana, juga kadang tertidur di kursinya yang juga telah tua. Dulu sewaktu ia masih muda dan kuat ia memang juga anggota petugas keamanan di kotanya, sehari-hari ia habiskan di dalam pos jaga yang hingga kini - lama setelah ia pensiun - masih juga ia tunggui. Tidak ada yang terganggu karena kehadirannya, tidak juga dengan petugas-petugas keamanan yang baru - yang telah berganti generasi beberapa kali. Seperti pohon yang tumbuh di samping pos jaga itu, tidak ada yang aneh dengan kehadirannya di sana, selayaknya ia memang sudah seharusnya berada di sana.

Ini Kemiskinan

Sebuah tulisan lama. Saya masih ingat, tulisan ini adalah hasil refleksi sesudah terjebak di dalam Metromini yang tertahan kemacetan parah, di siang bolong, di suatu lingkungan pelosok Jakarta yang sungguh aduhai mempesona kumuhnya, juga semrawut dan bising. Pengalaman yang cukup biasa di kota ini.

***

03 September 2005

Asap di atas kali. Di atas air penuh limbah dan sampah, hijau menebar bau, diramaikan tikus-tikus sebesar kucing. Rumah-rumah berjejer, batu bata hingga papan lapuk dan seng berkarat, berhimpitan bertumpukan menyempil terdesak, kumuh menyerupai kandang kambing. Udara panas menandingi neraka jahanam, keringat menetes mengalir deras, asap rokok dan metromini bersiteru bergulungan. Suara-suara tak sudi berhenti, mobil motor dan bus PPD, kondektur gila disambut pedagang kaki lima. Hari demi hari tetap seperti ini, semerbak tinja dan kencing siang malam, mengundang seringai orang-orang hilang ingatan: Hari ini masih menganggur.

Popular Nonsensical Matters